KERAJAAN PERELAK

Posted: Oktober 29, 2010 in Uncategorized

Membahas Kab. Aceh Timur tanpa menyinggung kerajaan Peureulak ibarat masakan kurang garam, ga terasa enaknya. Maka pada postingan kali ini saya mencoba mem-posting sejarah kerajaan Peureulak yang saya dapat dari berbagai Sumber.

Jauh sebelum kedatangan pengaruh Islam, di Peureulak telah berdiri kerajaan, Raja-raja yang memerintah raja itu berasal dari turunan raja-raja Syahir Nuwi, dari Negeri Siam, Idhharul-haq Menceritakan bahwa Kerajaan Islam Peureulak berdiri pada Rabu, 1 Muharram 225 H atau Rabu, 12 November 839 M) Dan raja pertamanya adalah Sultan Allaiddin Saiyid Maulana Aziz Syah, dengan ibukota negaranya Bandar Peureulak, Kemudian Ibukota Negara Kerajaan Islam Peureulak, dipindah dan ubah namanya menjadi Bandar Khalifah, (Nama ini dipakai untuk mengingatkan jasa dari seorang nahkoda yang memimpin saudagar muslim yang mengajarkan keIslaman penduduk Peureulak., dengan kepindahan ibukota kerajaan tersebut menjadi semakin membuka kesempatan mendakwahkan ajaran Islam kepada penduduk pedalaman Aceh, melalui system kekerabatan yang pernah berjalan, menyebarkan unsur-unsur kebudayaan Islam pada awal-awal kedatangan ke AcehMarco Polo pelaut asal Italia dari Venesia, mencatat bahwa ia pernah singgah di ferlece (Peureulak) dalam tahun 692 M (1291 H), dalam perjalanan pulang ke negerinya, ia menemukan penduduk itu memeluk agama Islam yang disebarkan oleh pedagang Arab, Gujarat, Persia dan Turkey. Menurut Marcopolo, pada waktu itu masih terdapat pula penduduk negeri itu yang masih menyembah berhala tidak jauh dari Peureulak, sewaktu Marcopolo menanti angin yang baik untuk membawanya pulang selama lima bulan di Samara, ia dan rombongan terpaksa harus menyelamatkan diri dari serangan orang-orang daerah itu sehingga ia harus mendirikan benteng dari pancang-pancang kayu, serangan ini menunjukkan bahwa orang-orang dari kerajaan Islam Peureulak sudah memiliki kemampuan tempur yang luar biasa sehingga seorang pelaut sekaliber Marcopolo pun terpaksa harus bersusah-payah mendirikan benteng kayu untuk menahan serangan. Betapa di masa sekarang kita melihat bagaimana Tentara Nasional Indonesia kewalahan menghadapi serangan dari tentara pemberontak GAM disaat di saat konflik. Gaya dan taktik berperang yang digunakan mereka adalah warisan budaya Aceh kerajaan Islam Peureulak dulu.

Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam di Indonesia yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, antara tahun 840 sampai 1292. Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak. Hasil sumberdaya alam dan posisinya yang strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad ke-8 yang disinggahi oleh kapal-kapal yang antara lain berasal dari Arab dan Persia. Hal ini membuat berkembangnya masyarakat Islam di daerah ini, terutama sebagai akibat perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat.

Dalam idhharul-haq, Kerajaan Peureulak telah mencapai kemajuan-kemajuan peradaban yang maju, sistem pemerintahannya menyerupai sistem pemerintahan Abbasiah, hanya saja telah disederhanakan; demikian pula organisasi ketentaraan seperti yang dituliskan Ali Hasyim, Dkk, organisasi ketentaraan kerajaan Peureulak merupakan organ kekuasaan yang paling berperan dalam memperluas wilayah kekuasaan Islam, dari sini bias kita gambarkan bahwa Islam sangat perlu mobilisasi ketentaraan dan berperang adalah salah satu unsur ibadah secara Mulkiyah, dalam mengawal kebutuhan ajaran Islam dan melindungi Jama’atul Muslimin dari invasi negara luar yang mencoba menjajah negeri Islam, adalah wajar ketika bangsa Aceh sanggup melawan segala intervensi militer pada masa itu, namun belum tentu pada masa sekarang, kepahlawanan orang-orang Aceh sangat luar biasa pada saat itu, kepahlawanan tersebut yang kemudian telah sanggup mempertahankan sedikitnya empat tahta kerajaan.

Hingga awal abad ke-10, tercatat empat raja yang memerintah kerajaan Islam Peureulak, antaranya :

  1. Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Azis Syah, yang memerintah pada tahun 225-249 H (840-864 M)
  2. Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdurrahim Syah, 249-285 H (864-888 M).
  3. Sultan Alaidin Saiyid Maulanan Abbas Syah, 285-300 H (888-913 M)
  4. Sultan Alaidin Saiyid Maulanan Ali Mughaiyat Syah, 302-305 H (915-918 M)

Penobatan sultan yang ke empat sempat tertunda selama tiga tahun, hal ini diakibatkan karena terjadinya permasalahan politis pertentangan pengaruh aliran Mazhab/ politik Syi’ah dan Ahlussunnah Waljama’ah.[1]

Para saudagar yang dipimpin oleh kaum nahkoda khalifah terdiri dari pimpinan-pimpinan kaum Syi’ah yang tersingkir oleh kaum dinasti Abbasiyah di tanah Arab, Persia dan India.

Perkembangan dan pergolakan

Sultan pertama Peureulak adalah Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Azis Syah, yang beraliran Syi’ah dan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Peureulak pada 1 Muharram 225 H (840 M). Ia mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Peureulak menjadi Bandar Khalifah.

Pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abbas Syah, aliran Sunni mulai masuk ke Peureulak. Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syi’ah dan Sunni sehingga selama dua tahun berikutnya tak ada sultan.

Kaum Syi’ah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (915 M), Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Ali Mughat Syah dari aliran Syi’ah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syi’ah dan Sunni yang kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni sehingga sultan-sultan berikutnya diambil dari golongan Sunni.

Pertentangan mahzab yang keras ini sempat ke Peureulak dalam masa sultan Alaiddin Saiyid Maulana Ali Mughaiyad Syah (Bukan Ali Mughaiyad Syah Sultan di Kerajaan Aceh Darussalam) Kaum Ahlusunnah dapat menumbangkan kerajaan Islam Syi’ah Peureulak dan Mendirikan Kerajaan Islam Ahlusunnah Peureulak, yang para Sultannya terkenal dengan dinasti Makhdum, sebagai penyambung sultan-sultan dari dinasti Saiyid Maulana, yaitu ;

1. Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdulkadir Syah Johan Berdaulat, memerintah tahun 306-310 H (981-922 M)

2. Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat[2], 310-334 H (922-946 M)

3. Sultan Makhdum Alaidin Abdulmalik Syah Johan Berdaulat, 334-361 H (946-973 M)

4. Sultan Makhdum Malik Mansur Syah Johan Berdaulat, 402-450 H (1012-1059 M)

5. Sultan Makhdum Alaidin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat, 450-470 H (1059-1078 M)

6. Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat, 470-501 H (1078-1108 M)

7. Sultan Makhdum Alaidin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat, 501-527 H (1108-1134 M)

8. Sultan Makhdum Alaidin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat, 527-552 H (1134-1158M)

9. Sultan Makhdum Alaidin Malik Usman Syah Johan Berdaulat 552-565 H (1158-1170 M

10. Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Syah Johan Berdaulat,565-592 H (1170-1196 M)

11. Sultan Makhdum Alaidin Malik Abduljalil Syah Johan Berdaulat, 592-622 H (1196-1225 M)

12. Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat, 622-662 H (1225-1263 M)

Pada tahun 362 H (956 M), setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara Syi’ah dan Sunni yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian:

v Peureulak Pesisir (Syi’ah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Syah (986‑988) dengan ibukota Bandar Peureulak

v Peureulak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (986–1023) dengan Ibukota Bandar Khalifah

Pada tahun 375 H atau (986 M), kerajaan Sriwijaya menyerang Peureulak, Peperangan tersebut menyebabkan Sultan Alaidin Saiyid Maulana Mahmud Syah syahid, peperangan dengan kerajaan Sriwijaya terus dilanjutkan, sehingga tahun 393 H (1006 M) tentara Sriwijaya keluar dari Peureulak dengan mengalami kerugian yang besar. Maka Sultan Makhdum Alaidin Malik Ibrahim Syah (dari golongan Sunni) menjadi Sultan tunggal Kerajaan Islam Peureulak dan melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006

Disisi lain peperangan ini membawa dampak positif dengan meluasnya pengaruh ajaran Islam ke daerah pedalaman dan ke pantai Barat Utara oleh para Muhajjirin yang hijrah, dan diantara mereka membuka negeri-negeri Islam baru, Seperti Negeri Samudra Pasai, Negeri Isak dan Negeri Lingga (Aceh Tengah), Negeri Serbajadi dan Negri Peunaron (daerah Tamiang dan Lokop)

Penggabungan dengan Samudera Pasai

Sultan ke-17 Peureulak, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (memerintah 1230-1267), tidak mempunyai putra mahkota, namun dibalik itu terjadi peristiwa dari segi politis, yakni berlangsungnya perkawinan dua orang Putrinya dengan dua orang Raja. Hal ini untuk menjalankan politik persahabatan dengan menikahkan dua orang putrinya dengan penguasa negeri tetangga Peureulak

v Putri Ratna Kamala, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara).

v Putri Ganggang, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, Al Malik Al-Saleh.

Putri Ratna Kemala dikawinkan dengan Parameswara setelah memeluk Islam bernama Iskandarsyah, seorang Raja Malaka[3], dengan bantuan Iparnya Malik Abdulaziz Syah (Putra mahkota Malik Muhammad Amin Syah II), sultan berjihad untuk mengembangkan Islam ke seluruh daratan semenanjung tanah melayu[4], sedangkan putri Ganggang Sari dikawinkan dengan sultan Malikussaleh yang memerintah kerajaan Islam Samudera Pasai dalam tahun 659-688 H (1261-1289 M)

Perkawinan ini mempunyai arti yang besar dalam penyebaran Islam di Sumatra dan semenanjung tanah melayu, disamping itu juga telah menempatkan Kerajaan Islam Peureulak sebagai Kerajaan Yang memiliki kebudayaan dan Tamaddun tinggi sifat terbuka.[5]

Sultan Malik Abdulaziz adalah raja terakhir dinasti Makhdum dalam kerajaan Islam peureulak, setelah ia mangkat, Kerajaan Islam Peureulak berabung dengan Kerajaan Islam Samudera Pasai , Sultan Malikussaleh dari Kerajaan Islam Samudera Pasai menikah dengan Putri Ganggang Sari dari Kerajaan Islam Peureulak, yang melahirkan seorang putra pewaris tahta dua kerajaan yakni Sultan Malikul Dhahir, faktor yang menyebabkan lancarnya penyatuan kerajaan Islam Peureulak ke dalam kerajaan Islam Samudera Pasai.[6]


[1] Ali Hasjmy, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, Jakarta: Beuna, 1983, h. 47

[2] Malik Muhammad Amin sebelumnya adalah seorang Syekh dari pusat pendidikan Cot Kala, yang dibangun pada pertengahan abad ke-3 H, sebagai pusat pendidikan Islam pertama di Asia Tenggara, Ia bergelar Teungku Chik Cot Kala (Guru Besar Dayah Tinggi Cot Kala)

[3] Peraweswara ini sebelumnya berasal dari kerajaan Sriwijaya, yang telah menjadi vassal Majapahit, paraweswara dalam naskah tua Sejarah Melayu berusaha melepaskan dari kedudukan sebagai vassal Majapahit, yang menyebabkan Majapahit gusar dan menghancurkan Palembang. Kemudian paraweswara menetap di pulau Tumasik (Singapura sekarang) dan mendirikan kerajaan Malaka yang kemudian terpaksa dipindahkan Ibukotanya karena diserang seorang vassal raja Thai ke semenanjung Malaka. Lihat V.I. Braginsky, Sejarah sastra melayu dalam abad ke-7 – 19, (terjemahan dari Hersri Setiawan, (Jakarta: INIS,1999)

[4] Data-data ini diambil dari seminar menyambut Abad XV Hijriyah dan Ulang tahun ke 1176 Kerajaan Islam Peureulak dalam buku Ali Hasjmy, dkk (eds.) Ibid

[5] Ali Hasymi, Op.cit, Hal. 47

[6] Ali Hasjmy Dkk, (.eds.), Loc.ci

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s