SISTEM PENCERNAAN

Posted: November 2, 2010 in Uncategorized

DEFINISI

Sistem pencernaan (mulai dari mulut sampai anus) berfungsi sebagai berikut:
– menerima makanan
– memecah makanan menjadi zat-zat gizi (suatu proses yang disebut pencernaan)
– menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah
– membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna dari tubuh.

 

Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus.
Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

Saluran Pencernaan

Mulut, Tenggorokan & Kerongkongan

Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan dan sistem pernafasan.
Bagian dalamdari mulut dilapisi oleh selaput lendir.

Saluran dari kelenjar liur di pipi, dibawah lidah dan dibawah rahang mengalirkan isinya ke dalam mulut.
Di dasar mulut terdapat lidah, yangberfungsi untuk merasakan dan mencampur makanan.

Di belakang dan dibawah mulut terdapat tenggorokan (faring).

Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah.
Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung.
Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit.
Penciuman lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau.

Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan dikunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna.
Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya.

Pada saat makan, aliran dari ludah membersihkan bakteri yang bisa menyebabkan pembusukan gigi dan kelainan lainnya.
Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung.

Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.
Epiglotis akan tertutup agar makanan tidak masuk ke dalam pipa udara (trakea) dan ke paru-paru, sedangkan bagian atap mulut sebelah belakang (palatum mole, langit-langit lunak) terangkat agar makanan tidak masuk ke dalam hidung.

Kerongkongan (esofagus) merupakan saluran berotot yang berdinding tipis dan dilapisi oleh selaput lendir.
Kerongkongan menghubungkan tenggorokan dengan lambung.
Makanan didorong melalui kerongkongan bukan oleh gaya tarik bumi, tetapi oleh gelombang kontraksi dan relaksasi otot ritmik yang disebut dengan peristaltik.

Bagian-Bagian Mulut

Lambung

Lambung merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai, terdiri dari 3 bagian yaitu kardia, fundus dan antrum.

Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfingter), yang bisa membuka dan menutup.
Dalam keadaan normal, sfingter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan.

Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.
Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting:
– lendir
– asam klorida
– prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein).
Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung dan enzim.
Setiap kelainan pada lapisan lendir ini (apakah karena infeksi oleh bakteri Helicobacter pylori atau karena aspirin), bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung.

Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein.
Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.
Pelepasan asam dirangsang oleh:
– saraf yang menuju ke lambung
– gastrin (hormon yang dilepaskan oleh lambung)
– histamin (zat yang dilepaskan oleh lambung).

Pepsin bertanggungjawab atas pemecahan sekitar 10% protein.
Pepsin merupakan satu-satunya enzim yang mencerna kolagen, yang merupakan suatu protein dan kandungan utama dari daging.

Hanya beberapa zat yang bisa diserap langsung dari lambung (misalnya alkohol dan aspirin) dan itupun hanya dalam jumlah yang sangat kecil.

Bagian-Bagian Lambung

Usus halus

Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus.
Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa dicerna oleh usus halus.
Jika penuh, duodenum akan mengirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan.

Duodenum menerima enzim pankreatik dari pankreas dan empedu dari hati.
Cairan tersebut (yang masuk ke dalam duodenum melalui lubang yang disebut sfingter Oddi) merupakan bagian yang penting dari proses pencernaan dan penyerapan.
Gerakan peristaltik juga membantu pencernaan dan penyerapan dengan cara mengaduk dan mencampurnya dengan zat yang dihasilkan oleh usus.

Beberapa senti pertama dari lapisan duodenum adalah licin, tetapi sisanya memiliki lipatan-lipatan, tonjolan-tonjolan kecil (vili) dan tonjolan yang lebih kecil (mikrovili).
Vili dan mikrovili menyebabkan bertambahnya permukaan dari lapisan duodenum, sehingga menambah jumlah zat gizi yang diserap.

Sisa dari usus halus, yang terletak dibawah duodenum, terdiri dari jejunum dan ileum.
Bagian ini terutama bertanggungjawab atas penyerapan lemak dan zat gizi lainnya.
Penyerapan ini diperbesar oleh permukaannya yang luas karena terdiri dari lipatan-lipatan, vili dan mikrovili.

Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta.
Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.

Kepadatan dari isi usus berubah secara bertahap, seiring dengan perjalanannya melalui usus halus.
Di dalam duodenum, air dengan cepat dipompa ke dalam isi usus untuk melarutkan keasaman lambung.
Ketika melewati usus halus bagian bawah, isi usus menjadi lebih cair karena mengandung air, lendir dan enzim-enzim pankreatik.

Anatomi Isi Lambung Dan Usus Halus

Pankreas

Pankreas merupakan suatu organ yang terdiri dari 2 jaringan dasar:
– Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan
– Pulau pankreas, menghasilkan hormon.
Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon ke dalam darah.

Enzim-enzim pencernaan dihasilkan oleh sel-sel asini dan mengalir melalui berbagai saluran ke dalam duktus pankreatikus.
Duktus pankreatikus akan bergabung dengan saluran empedu pada sfingter Oddi, dimana keduanya akan masuk ke dalam duodenum.

Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein, karbohidrat dan lemak.
Enzim proteolitik memecah protein ke dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan.
Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.

3 hormon yang dihasilkan oleh pankreas adalah:
– Insulin, yang berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah
– Glukagon, yang berfungsi menaikkan kadar gula dalam darah
– Somatostatin, yang berfungsi menghalangi pelepasan kedua hormon lainnya (insulin dan glukagon).

Hati

Hati merupakan sebuah organ yang besar dan memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan.

Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler).
Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke dalam hati sebagai vena porta.
Vena porta terbagi menjadi pembuluh-pembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah.

Darah diolah dalam 2 cara:
– Bakteri dan partikel asing lainnya yang diserap dari usus dibuang
– Berbagai zat gizi yang diserap dari usus selanjutnya dipecah sehingga dapat digunakan oleh tubuh.
Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum.

Hati menghasilkan sekitar separuh dari seluruh kolesterol dalam tubuh, sisanya berasal dari makanan.
Sekitar 80% kolesterol yang dihasilkan di hati digunakan untuk membuat empedu.
Hati juga menghasilkan empedu, yang disimpan di dalam kandung empedu.

Kandung empedu & Saluran empedu

Empedu mengalir dari hati melalui duktus hepatikus kiri dan kanan, yang selanjutnya bergabung membentuk duktus hepatikus umum.
Saluran ini kemudian bergabung dengan sebuah saluran yang berasal dari kandung empedu (duktus sistikus) untuk membentuk saluran empedu umum.
Duktus pankreatikus bergabung dengan saluran empedu umum dan masuk ke dalam duodenum.

Sebelum makan, garam-garam empedu menumpuk di dalam kandung empedu dan hanya sedikit empedu yang mengalir dari hati.
Makanan di dalam duodenum memicu serangkaian sinyal hormonal dan sinyal saraf sehingga kandung empedu berkontraksi.
Sebagai akibatnya, empedu mengalir ke dalam duodenum dan bercampur dengan makanan.

Empedu memiliki 2 fungsi penting:
– Membantu pencernaan dan penyerapan lemak
– Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol.

Secara spesifik empedu berperan dalam berbagai proses berikut:
– Garam empedu meningkatkan kelarutan kolesterol, lemak dan vitamin yang larut dalam lemak untuk membantu proses penyerapan
– Garam empedu merangsang pelepasan air oleh usus besar untuk membantu menggerakkan isinya
– Bilirubin (pigmen utama dari empedu) dibuang ke dalam empedu sebagai limbah dari sel darah merah yang dihancurkan
– Obat dan limbah lainnya dibuang dalam empedu dan selanjutnya dibuang dari tubuh
– Berbagai protein yang berperan dalam fungsi empedu dibuang di dalam empedu.

Garam empedu kembali diserap ke dalam usus halus, disuling oleh hati dan dialirkan kembali ke dalam empedu.
Sirkulasi ini dikenal sebagai sirkulasi enterohepatik.
Seluruh garam empedu di dalam tubuh mengalami sirkulasi sebanyak 10-12 kali/hari. Dalam setiap sirkulasi, sejumlah kecil garam empedu masuk ke dalam usus besar (kolon). Di dalam kolon, bakteri memecah garam empedu menjadi berbagai unsur pokok. Beberapa dari unsur pokok ini diserap kembali dan sisanya dibuang bersama tinja.

Usus besar

Usus besar terdiri dari:
– Kolon asendens (kanan)
– Kolon transversum
– Kolon desendens (kiri)
– Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum).

Apendiks (usus buntu) merupakan suatu tonjolan kecil berbentuk seperti tabung, yang terletak di kolon asendens, pada perbatasan kolon asendens dengan usus halus.

Usus besar menghasilkan lendir dan berfungsi menyerap air dan elektrolit dari tinja.

Ketika mencapai usus besar, isi usus berbentuk cairan, tetapi ketika mencapai rektum bentuknya menjadi padat.

Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi.
Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K.
Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri di dalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.

Gambaran Anatomi Usus Besar

Rektum & Anus

Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus.
Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar.Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda buang air besar.

Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh.
Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lainnya dari usus.
Suatu cincin berotot (sfingter ani) menjaga agar anus tetap tertutup.

Anatomi Rektum

penganitar mikrobiolog

Posted: November 6, 2010 in Uncategorized

Pendahuluan
Mikrobiologi merupakan ilmu pengetahuan tentang perikehidupan makhluk-makhluk kecil yang hanya kelihatan dengan mikroskop (Mikros : Kecil, Bios : Hidup)
Makhluk kecil : Mikroorganisme, mikroba, protista, atau jasad renik
Batasan dinamakan mikroba : < 0,1 mm, satuan mikron (1 µ = 0,001 mm)
Awal Mula Mikrobiologi
Ditemukannya Mikroskop
Mikroskop berguna untuk memperbesarkan bayangan benda
Penemu : Anthony van Leeuwenhoek (1632-1723)
Mikroskopnya mampu memberikan pembesaran sampai 300 x
Hewan bersel satu yang ditemukannya adalah berasal dari air hujan yang menggenang di kubangan yang dinamakan : Infusoria atau hewan tuangan

Antony merupakan peletak batu pertama ilmu mikrobiologi
Cakupan Ilmu Mikrobiologi :
Virologi  Tentang virus
Bateriologi  tentang bakteri
Protozoologi  hewan bersel satu
Mikologi  tentang jamur
Immunologi  tentang kekebalan tubuh

Periode Perkembangan dan kemajuan mikrobiologi
Pada proses perkembangan mikrobiologi dibagi menjadi 3 jaman :
Era Perintisan : Jaman pra sejarah – 1850
Jaman Keemasan : 1850-1910
Era Modern : 1910 – sekarang
Era Perintisan : Jaman pra sejarah – 1850
Pada periode ini timbul fenomena, batasan (postulat) tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan mikrobiologi secara umum maupun secara khusus, yang berkaitan dengan bidang kesehatan kesling dll.
Dalam periode ini para ahli mencoba mencari jawaban dari berbagai permasalahan yang timbul di lingkungannnya yang mungkin berkaitan dengan peranan mikroba, antara lain dari mana asal mula kehidupan yang pertama, kenapa makanan menjadi rusak/membusuk, bagaimana suatu penyakit dapat menular sampai dengan suatu proses fermentasi

Penemuan mikrobe oleh Anthony van Leewenhoek
Penemu mikroba pertama
Diawali dengan ditemukannya mikroskop yang mampu memberikan pembesaran sampai 300 x
Dia adalah seorang pedagang Belanda dan sering menyampaikan hasil penemuannya kepada para anggota “The Royal Society” suatu lembaga ilmiah di eropa pada jaman dulu
Persengketaan tentang teori Abiogenesis
Apa itu abiogenesis ? Abiogenesis merupakan pendapat mengenai pembentukan makhluk hidup dari benda tak hidup yang sering disebut dengan doktrin Generasio Spontanea
Teori ini sudah sejak lama ada sejak Aristoteles (300 SM)
Aristoteles menyampaikan bahwa makhluk-makhluk kecil terjadi begitu saja dari benda mati
Pendapat ini dianut juga oleh Needam (1745), seorang pendeta bangsa Irlandia

Needam
Eksperimen yang dilakukan Needam adalah mengadakan pelbagai rebusan padi-padian, daging dll.
Meskipun air rebusan tsb disimpan dalam notol yang tertutup rapat , namun timbulah mikroorhanisme; dengan perkataan lain kehidupan baru dapat timbul dari barang mati.
Francesco Redi (1665 M)
Redi melakukan penelitian dengan ditunjukkanya bahwa ulat berkembang biak dalam daging busuktidak akan terjadi bila daging disimpan disuatu tempat tertutup dengan kasa halus sehingga lalat tidak dapat menaruh telurnya pada daging itu
Lazzaro Spallanzani (1729-1799)
Pada tahun 1768 ia membantah pendapat Aristoteles dan Needam dengan mengatakan bahwa perebusan dan penutupan botol tersbut kurang sempurna.
Ia merebus sepotong daging sampai berjam-jam dan air daging tersebut ditutupnya rapat-rapat didalam botol
Pendapat Spalanzani pada waktu itu belum meyakinkan benar ; setengah orang pada waktu itu berpendapat bahwa botol yangtertutup tidak memungkinkan masuknya udara yang dibutuhkan mikroorganisme

Schultze (1836)
Ia memperbaiki eksperimen Spalanzani dengan mengalirkan udara lewat suatu asam atau basa yang keras ke dalam botol berisi kaldu yang telah direbus dahulu.

Schwann (1837)
Ia membuat percobaan serupa dengan sechultze dengan mengalirkan udara lewat pipa yang dipanasi menuju botol yang berisi kaldu yang telah dipanasi berjam-jam
Eksperimen ini masih kurang menguatkan kelompok abiogenesis karena udara yang lewat asam atau basa serta pipa yang dipanasi menyebabkan perubahan pada kehidupan makhluk baru.
Schroeder dan Th. Von Dusch (1854)
Mereka menemukan sutu akal untuk menyaring udara yang menuju ke dalam botol berisi kaldu
Udara itu dilewatkan suaut pipa berisi kapas yang steril.
Dengan cara ini mereka tidak menemukan mikroorganisme baru
Dengan penemuan mereka maka menyakinkan kelompok abiogeneis sehingga tumbanglah teori Abiogenesis
Louis Pasteur (1865)
Ia melakukan percobaan yang lebih meyakinkan kelemahan Teori abiogenesis dengan cara menggunakan botol berisi kaldu dengan ditutup oleh suatu pipa yang melengkung seperti leher angsa.
Dengan cara ini tidak ditemukan mikroba pada kaldu
Dia mengemukakan bahwa Tidak ada kehidupan baru yang timbul dari barang mati “Omne Vivum ex ovo, omne ovum ex vivo “: yang berati semua kehidupan berasal dari telur dan semua telur berasal dari sesuatu yang hidup
Serangkaian percobaan lain yang membuktikan ketidakbenaran Teori Abiogenesis
John Tyndall
Melakukan percobaan dengan kaldu yang terbuat dari daging dan sayuran segar
Melakukan percobaan dengan menggunakan air jerami kering
Kesimpulan Tyndall : bakteri terdapat fase-fase teretentu, ada yang termolabil aada juga yang termoresisten
Menemukan cara sterilisasi dengan pemanasan yang terputus  Tyndalisasi
Ferdinand Cohn
Mengemukakan bahwa bakteri akan membentuk endospora yang dapat dibedakan secara mikroskopis dan sangat resisten terhadap panas
Fermentasi sebagai Proses Mikrobiologis
Louis Pasteur mengemukakan bahwa proses fermentasi merupakan hasil kegiata mikroorganisme.
Dia menyanggah pendapat ilmuwan waktu itu bahwa fermentasi hanyalah proses kimiawi belaka dan bukan kegiatan organisme hidup
Pasteur menemukan mikroorganisme aerobik dan anaerobik.
Penemuan Peran Mikroorganisme sebagai Penyebab Penyakit
Varro (abad I Sebelum Masehi) berpendapat bahwa suatu penyakit disebabkan oleh sesuatu yang dibawa oleh udara yang masuk ke dalam tubuh manusia
Waktu itu khalayak meyakini bahwa suatu penyakit disebabakn oleh roh halus

Beberapa Tokoh yang menyelidiki peran mikroorganisme sebagai penyebab penyakit
Francastorius (Italy, 1546)  berpendapat bahwa penyakit seperti pes, cacar, tuberculosis disebabkan oleh tertular-menularnya (contagion) suatu seminaria dari orang ke orang lain
Henle (1840), Robert Koch (1843 – 1910)  bahwa suatu penyakit tertentu itu disebabkan oleh sutu kelompok mikroorganisme tertentu pula

Wollstein (1787)  meneliti dengan cara menggesekkan sesuatu yang diambil dari rongga hidung kuda yang pilek kepada kuda sehat maka kuda sehat akan menderita pilek juga
Oliver wendell Holmes (1843) dan Ignaz Semmelweis (1847)  menekankan perlunya desinfeksi pada prosedur pembedahan dan cuci tangan dengan larutan antiseptik
Pollender (1849) dan Davaine (1850)  menemukan adanya mikroorganisme pada darah ternak yang menderita anthraks
Era Keemasan
Penemuan khususnya perintisan dan hasil penelitian selama periode sebelumnya, dapat memberikan informasi yang sangat berguna bagi perkembangan mikrobiologi pada masa selanjutnya.
Masa antara 1850-1910 dinamakan periode keemasan
Beberapa penemuan di era keemasan
Robert Koch
Penemuan Robert Koch tentang piaraan murni.
Berdasarkan hal tersebut ia mengemukakan 4 dalil (postulat), yang dikenal dengan Postulat Koch

Postulat Koch
Mikroorganisme yang dicurigai atau disangka haruslah selalu kedapatan bila penyakit sedang berjangkit
Mikroorganismeharusla dapat diambildari situ untuk diadakan piaraan murni
Jika jasad renik itu ditularkan kepada binatang sehat, haruslah menimbulkan penyakit yang sama
Mikroorganisme itu haruslah kedapatan lagi untuk diambil serra dipiara secara murni
Kelemahan Postulat Koch
Terkadang basil yang dipiara murni telah kehilangan virulensinya
Setiap binatang atau orang tidak mesti jatuh sakit setelah ditulari bakteri patogen
Tidak semua bakteri patogen dapat dipiara secara murni

Penemuan lain pada periode keemasan
Ditemukannya cawan petri didalam cara tehnik mikroba oleh Petri (1844).
Ditemukannya tehnik pewarnaan bakteri, sehingga bakteri terbagi menjadi du kelompok besar, yakni Gram Positif, dan Gram Negatif
Spencer (1851)  menemukan penyakit kolera

Lord lister (1854)  menemukan asam karbolat pada luka selama berlangsungnya pembedahan
Hansen (1874) menemukan kuman lepra
Neisser (1874) menemukan kuman gonokokus
Mc. Coy  Menemukan penyakit difteri
Era Modern
Pada era ini ditandai dengan dipergunakannya banyak metode dan peralatan mutakhir seperti Mikroskop elektron, sampai dengan komputer.
Masalah-masalah pelik yang sebelumnya belum terungkap sekatang sudang bisa diketahui, misal : antibiotika, vaksin, dll

Penemuan-penemuan di jaman modern
Herelle (1917) dan Towert (1951) menemukan fenomena lisis pada biakan kuman
Flemming (1925) menemukan jamur penicillium yang dapat membuat zat yang dapat menghancurkan bakteri stafilokokus
Ruska (1934) menemukan mikroskop elektron
Dll

Kesimpulan :
Periode modern ditandai masih akan mempunyai sejarah panjang di jaman sekarang
Perkembangan mikrobiologi maju dengan pesatnya, setelah :
Penemuan serta penyempurnaan mikroskop
Jatuhnya teori abiogenesis
Orang yakin bahwa pembusukan itu disebabkan oleh mikroorganisme
Dibuktikan bahwa penyakit (infeksi) disebabkan oleh bibit penyakit

  1. Karakterisasi Kromosom Kacang Merah Kultivar Garut (phaseolus Vulgaris L.cv.garut)
  2. Pengaruh Pengkayaan Taurine Dalam Suplemen Nutrien Rotifera (brachionus Plicatilis) Terhadap Pertumbuhan Dan Sintasan Larva Kerapu Macan (epinophelus Fuscoguttatus Forsskall)
  3. Pengaruh Ekstrak-etanol Daun Mindi Melia Azedarach L. Terhadap Daya Tetas Telur, Perkembangan Dan Mortalitas Larva Aedes Albopictus
  4. Pengaruh Trichoderma Viride Nrrl 3653 Dan Fungisida Benlate Terhadap Fusarium Moniliforme Frr 4102
  5. Pengaruh Cahaya Matahari Pagi, Siang, Dan Sore Terhadap Pertumbuhan Sawi Hijau (brassica Juncea L.)
    Program Studi: Biologi
  6. Peranan Bacillus Sp. Dan Aspergillus Sp. Sebagai Inokulum Dalam Pemisahan Minyak Kelapa
  7. Pengaruh Metopren Terhadap Daya Tetas Telur Dan Perkembangan Larva Aedes Aegypti Dan Aedes Albopictus.
  8. Pengaruh Ekstrak Etanol Patikan Kebo (euphorbia Hirta L.) Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus Aureus Atcc 25923 Dan Shigella Dysentriae.
  9. Pakan Alami Bagi Kelelawar Buah Cynopterus Horsfieldi (gray, 1843) Di Kecamatan Kokap, Kulon Progo, Jogjakarta
  10. Pengaruh Ekstrak Etanol Rimpang Pacing (costus Speciosus J.sm.) Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Putih (rattus Norvegicus L.) Hiperglikemia
  11. Pengaruh Ekstrak Etanol Biji Mindi (melia Azedarach L.) Terhadap Daya Tetas Telur, Perkembangan Dan Mortalitas Larva Aedes Albopictus
  12. Struktur Dan Komposisi Vegetasi Bawah Pada Area Bekas Perkebunan Pisang Cavendish Di Pulau Nusakambangan Cilacap, Jawa Tengah
  13. Pengaruh Dekstrak Sargassum Sp. Per Oral Terhadap Struktur Mikroanatomi Duodenum Tikus Putih (rattus Norvegicus L.) Yang Diakumulasi Pb-asetat
  14. Biodegradasi Minyak Solar Sebagai Polutan Lingkungan Oleh Bakteri Tanah
  15. Karekterisasi Isolat Bakteri Pendegradasi Minyak Solar Dari Endapan (sludge) Minyak Solar
  16. Perkembangan Perilaku Harian Elang Bondol Haliastur Indus (boddaert, 1783) Pada Masa Sebelum Dilepasliarkan Di Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta
  17. Kemelimpahan Larva Chironomus Sp. Di Sungai Code Dan Gajahwong Yogyakarta
  18. Pengaruh Profenos, Chlorpyriphos Dan Metidation Terhadap Perkecambahan Biji Cabai (capsicum Frutescens L.) Dan Biji Tomat (lycopersicum Esculentum L.)
  19. Pengaruh Darah Dan Empedu Ular Kobra (naja Naja Sputatrix W.) Terhadap Kadar Kolesterol Tikus Putih (rattus Norvegicus L.) Jantan Hiperglikemia
  20. Pengaruh Empedu Dan Darah Ular Kobra (naja Naja Sputatrix W.) Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Putih (rattus Norvegicus L.) Jantan Hiperglikemia
  21. Pengaruh Masukan Air Buangan P3tm-batan, Yogyakarta Terhadap Kemelimpahan Fitoplankton Dan Zooplanton Pada Selokan Irigasi Umum Disekitarnya
  22. Degradasi Minyak Solar Oleh Bakteri Tanah Penghasil Biosurfaktan
  23. Perilaku Elang Laut Perut Putih (haliaeetus Leucogaster, J.m.gmelin,1788) Di Pusat Penyelamat Satwa Jojakarta (ppsj)
  24. Pengaruh pemberian ppk dsr saprodap/ppk dsr ppk kandang dgn ppk lanjutan NPK(16-16-16)/kombinasi ZA-KCL thdp pertumb.jml bulbus & kadar minyak atsiri bawang merah (Allium cepa)cv.Titon Bantul
  25. Profil hutan pasca kebakaran di lereng selatan Gunung Merapi, Yogyakarta
  26. Pengaruh pupuuk ZA terhadap pertumbuhan tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.f.)Nees) pada tanah latosol hitam, latosol merah dan tanah regosol dari Kabupaten Kulon Progo, DIY
  27. Hubungan kekrabatan Phalaenopsis hibrida thdp P.amboinensis J.J.Smith, P.violacea Witte, & P. amabilis (L.) berdasarkan pendekatan sifat morfologi
  28. Hubungan kekrabatan bambu belo terhadap marga Bambusa, Gigantochloa dan Dendrocalamus berdasarkan sifat morfologi organ vegetatif
  29. Kadar kolesterol dan trigliserida darah tikus putih (Rattus novergicus L.) hiperglikemia dengan perlakuan darah ular kobra (Naja naja spultatrix W.)
  30. Penurunan toksisitas limbah cair penyamakan kulit menggunakan zeolit dengan bioindikator Cyprinus carpio L.
  31. Karakter bakteri air yang toleran terhadap minyak solar pada medium cair yang mengandung minyak solar
  32. Pengaruh pemberian infusa daun tempuh wiyung (Emilia sonchifolia DC.) secara oral terhadap kadar asam urat serum darah ayam crossing jantan hiperurikemia
  33. Senyawa bioaktif ekstrak kloroform dan ekstrak metanol spons Pseudoaxinella sp. dan Tetilla sp. serta pengaruhnya terhadap Vibrio harveyi
  34. Penghambatan aktivitas urease dan nitrifikasi dalam tanah oleh DMA-6 (N,N-dimethyl ammonium-za-Dichlorophenyl acetate)
  35. Karakterisasi kromosom cabai merah besar kultivar Arimbi-513 (Capsicum annum L. cv. Arimbi-513
  36. Kadar asam urat darah tikus putih (Rattus novergicus L.) hiperlipidemia yang diperlakukan dengan jus buah pisang kepok (Musa paradisiaca L.cv.Kepok Kuning)
  37. Pengaruh sitokinin dan auksin pada periode panjang dalam kultur ujung batang tanaman anggrek bulan Phalaenopsis amabilis (L.) BI. secara in vitro
  38. Mikropropagasi temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb) menggunakan mata tunas dan daun dengan kombinasi NAA (Naphtalene acetic acid) dan kinetin
  39. Cacing endoparasit pada ikan kerapu (Epinephelus diacanthus) di perairan Makasar dan Surabaya
  40. Pengaruh kombinasi NAA (Naphtalene acetic acid) dan BAP (6-Benzylaminopurine) pada mikropropagasi tanaman temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb)
  41. Pendekatan genetika molekuler pertumbuhan tanaman anggrek intergenerik Dendrobium fimbriatum Hooker X Phalaenopsis amabilis (L.) BI.
  42. Kerentanan larva nyamuk Aedes aegypti L.dari kecamatan Kraton kota Yogyakarta terhadap temefos
  43. Hubungan kekrabatan 3 jenis anggrek alam Indonesia Phal.amabilis (L)BI.Phal.amboinensis J.J.Sm. & Phal.violacea T et B. dengan pendekatan morfologis dan molekuler
  44. Pemanfaatan abu terbang PLTU port site milik PT.Newmont NT sbg media tanam semai Leucaena glauca & Sesbenia grandiflora dengan penambahan kompos pupuk kandang
  45. Ektoparasit dan Endoparasit pada ikan Duri (Cephalocassis Melanochir) dan ikan Belukang (Arius Sagor) yg dikonsumsi oleh penduduk Desa Kuala Enok Indragiri Hilir Riau
  46. Efek profenos, klorpirifos dan metidation terhadap perkecambahan biji & pertumbuhan kecambah Amaranthus spinosus L.,Celosia argentea L. dan Mimosa pudica L.
  47. Pengaruh Ekstrak etanol biji mindi (Melia azedarach L.) peroral terhadap struktur mikroanatomi ren mencit (Mus musculus L.) yang terinfeksi Plasmodium bergheii
  48. Kerentanan larva Aedes aegypti L. dari Kecamatan Gondokusuman Kota Yogyakarta terhadap temefos
  49. Laju penyerapan dan eliminasi krom (VI) pada lien ikan nila (Tilapia nilotica L.) yang terdedah kalium dikromat (K2Cr2O7)
  50. Laju penyerapan dan eliminasi krom (VI) pada hepar ikan nila (Tilapia nilotica L.) yang terdedah kalium dikromat (K2Cr2O7)
  51. Pengaruh infusa tanaman sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.f.)Nees.) thdp kadar glukosa darah & SGPT tikus putih (Rattus norvegicus L.) betina hiperglikemia
  52. Struktur dan perkembangan Gametofit betina tanaman tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) akibat pengaruh limbah cair pabrik batik, Yogyakarta
  53. Struktur dan perkembangan buah tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) akibat pengaruh limbah cair pabrik batik, Yogyakarta
  54. Laju penyerapan dan eliminasi krom (VI) dalam insang ikan nila Tilapia nilotica L.
  55. Pengaruh pemaparan anti nyamuk elektrik MAT terhadap profil tikus putih (Rattus norvegicus L.)
  56. Kajian hubungan kekrabatan fenetik jenis-jenis Solanum budidaya di Yogyakarta berdasarkan sifat morfologi dan senyawa alkaloid daun
  57. Pengaruh pemberian dekstrak Sargassum sp. per oral terhadap struktur mikroanatomi ovarium tikus (Rattus norvegicus L.) yang terdedah timbal (Pb)
  58. Keanekaragamanjenis burung di Pulau Nusakambangan bagian barat, Cilacap, Jawa Tengah
  59. Pengaruh asap racun nyamuk bahan aktif Transflutrin dan D-Alletrin terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan struktur mikroanatomi jantung mencit (Mus musculus L.)
  60. Populasi kera ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles, 1821) di hutan hujan tropis dataran rendah Pulau Nusakambangan Kab. Cilacap Jawa Tengah
  61. Populasi lutung budeng (Trachypithecus auratus Geoffroy Saint Hillaire, 1812) di hutan hujan tropis dataran rendah Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah
  62. Potensi bakteri gram negatif dalam perombakan minyak solar pencemar air sumur
  63. Bioaktivitas fraksi ekstrak metanol tanaman tetabar (Costus speciosus (Koen) J.E.Smith.) asal Kalimantan terhadap larva Artemia salina Leach
  64. Nematoda parasit pada akar dan tanah sekitar tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.) di Desa Plaosan-Magetan, Jawa Timur
  65. Peran cacing tanah Lumbricus rubellus Hoff sebagai agen bioremediator tanah tercemar logam berat Cd.
  66. Peran bakteri fakultatif anaerob dalam degredasi minyak solar pencemar air sumur
  67. Pengurangan konsentrasi uranil nitrat oleh bakteri resisten uranium
  68. Bakteri pengikat stronsium pada limbah radioaktif cair aktivitas rendah
  69. Bioaktivitas dan golongan senyawa dalam fraksi ekstrak kloroform Sampuk Puar (Goniothalamus macrophyllus (Blume) Hook.f & Thomson) asal Kalimantan
  70. Distribusi dan kemelimpahan zooplankton di ekosistem hutan bakau Segara Anakan Cilacap
  71. Pengaruh immunostimulan terhadap enzim Prophenoloxidase, dan perkembangan larva udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man)
  72. Sebaran serangga koksineal Dactylopius coccus Costa (Dactylopiidae, Homoptera) dan daya rusaknya pada Kaktus Sendok Nasi Opuntia engelmannii di Loh Buaya, Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur
  73. Pengaruh penambahan Azolla spp pada pakan terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus Trewavas) di media air laut
  74. Pengaruh ekstrak atanol biji mindi (Melia azedarach L.) per oral terhadap struktur mikroanatomi hepar mencit (Mus musculus L.) jantan yang terinfeksi Plasmodium bergheii
  75. Pengaruh infusa daun sambung nyawa (Gynura procumbens (Lour) Merr.) terhadap kadar glukosa darah dan struktur mikroanatomi pankreas tikus putih (Rattus norvegicus L.) jantan hiperglikemia
  76. Pengaruh infusa buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff).Boerl.) masak segar dan kering terhadap kadar kolesterol total,kadar trigliserida dan struktur makroanatomi hepar tikus (Rattus norvegic
  77. Keanekaragaman dan distribusi spasial ikan anggota familia Chaetodontidae di perairan teluk Lempuyang, Taman Nasional Baluran, Jawa Timur
  78. Pengaruh kitosan udang putih tehadap kadar Low Density Lipoprotein (LDL) dan High Density Lipoprotein (HDL) serum darah tikus putih (Rattus norvegicus L.) hiperlipidemia
  79. Desain sistem kontrol ruang pertumbuhan ulat sutera (Bombyx mori L.) untuk meningkatkan kualitas produksi sutera alam : pengukuran pertumbuhan larva dan kualitas kokon
  80. Struktur hepar dan timbunan glikogen dalam hepatosit tikus putih ( Rattus norvegicus L.) jantan hiperglikemia setelah pemberian darah ular kobra (Naja naja sputatrix W.)
  81. Pengaruh herbisida oxyfluorfen terhadap pertumbuhan tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea. L.)
  82. Kajian efektivitas alumunium sulfat dan klorin dalam meningkatkan kualitas air produksi pada sistem pengolahan air bersih
  83. Kinetika pertumbuhan dan respon isolat bakteri filamen terhadap koagulan fero sulfat
  84. Bakteri lipolitik perombak minyak solar pencemar air sumur
  85. Karakterisasi kromosom bawang putih kultivar Sangga (Alliium sativum L.cv. Sangga)
  86. Habitat bersarang dan aktivitas harian biawak komodo (Varanus komodoensis Ouwens, 1912) di Loh Liang, Pulau Komodo
  87. Keragaman spesies Araceae di Lereng Selatan Gunung Merapi dan hubungan kekerabatan fenetiknya
  88. Habitat bersarang Penyu Lekang (Lepidochelys olivaceae, Eschscholtz 1829) di Pantai Ngagelan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur
  89. Pengaruh logam berat Cadmium (Cd) terhadap biomassa dan kemampuan reproduksi Cacing Tanah (Lumbricus rubellus Hoff.)
  90. Pengaruh ekstrak daun dan akar Alang-Alang (Imperata cylindrica (L)Beauv.) thdp perkecambahan biji dan pertumbuhan kecambah Sawi (Brassica juncea (L.) Zern.cv.caisim)dan bayam cabut (Amaranthus t. L.)
  91. Studi ekologi vegetasi pada perladangan hutan tradisional (Pumonean) masyarakat Mentawai di pulau Siberut, Sumatera Barat.
  92. Peran bakteri lipolitik dalam degredasi minyak solar pencemar air sumur di Jlagran, Jogjakarta
  93. Hubungan kekerabatan Bambu Belo terhadap marga Bambusa, Dendrocalamus, dan Gigantochloa berdasarkan sifat anatomi buluh bambu
  94. Habitat bersarang Gelatik Jawa (Padda oryzivora (Linnaeus), 1758) di Gunung Kidul, DIY.
  95. Ekstrak Tettila sp. sebagai agensia antibakteri terhadap Vibrio harveyi
  96. Kerentanan nyamuk Aedes aegypti L. dari Kecamatan Wirobrajan Yogyakarta terhadap senyawa organofosfat temefos dan malathion
  97. Populasi Gelatik Jawa (Padda oryzivara L.) dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaannya di kawasan Karst Gunung Kidul
  98. Habitat bersarang Burung Gosong Kaki Merah (Megapodius reinwardt reinwardt Dumont, 1823) dan keterkaitannya dengan Biawak Komodo (Varanus komodoensis Ouwen, 1912) di Loh Liang, Pulau Komodo, Nusa Tenggara
  99. Pengaruh pupuk kotoran kelinci, kompos cacing, atau NPK (15:15:15) terhadap pertumbuhan selada (Lactuca sativa L.)
  100. Seleksi Jamur Tanah yang berpotensi sebagai pengendali hayati terhadap Rhizoctonia solani Kuhn. penyebab busuk akar tanaman cabai (Capsicum frutescent L.)

judul- judul skripsi

Posted: Oktober 31, 2010 in Uncategorized

Berikut ini adalah kumpulan judul skripsi mahasiswa jurusan Pendidikan Biologi UIN Alauddin Makassar Angk. 2003 s/d 2005. Semuanya saya dapatkan dari Buku Alumni Wisuda ke-53 dan 54 Tahun Akademik 2007 – 2008 di UIN Alauddin Makassar, kampus tercinta saya.

Bagi teman-teman yang ingin melanjutkan penelitian atau berniat membahas materi ini, semoga Allah menunjukkan kemudahan dalam pelaksanaannya.

  1. Hambatan Guru dalam Penerapan Model Pembelajaran Konstruktivisme pada Mata Pelajaran Biologi di SMU Negeri 1 Polombangkeng Utara Kab. Takalar (Syahriani)
  2. Motivasi Belajar dan Hubungannya dengan Hasil Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Biologi pada Siswa kelas X SMA Sungguminasa Gowa (Noorhayati)
  3. Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran Biologi Melalui Strategi Pembelajaran Inquiry (SPI) dalam Pokok Bahasan Ekosistem pada Siswa Kelas X MA Madani Alauddin Pao-Pao Kab. Gowa (Rasdiana)
  4. Pengaruh Model Problem Based Learning (PBI) terhadap Penguasaan Materi Biologi pada Siswa Kelas VII MTs. Madani Pao-Pao Kab. Gowa (Ardawati)
  5. Analisis Kemampuan Menyelesaikan Soal-soal Aspek Ingatan, Pemahaman dan Aplikasi dalam Bidang Studi Biologi Kelas VIII MTs. Negeri Model Makassar (Muh. Irwan)
  6. Efektivitas Penggunaan Audio Visual dalam Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas IX SMP Muhammadiyah 12 Makassar (Ratna)
  7. Perbandingan Prestasi Belajar antara Mahasiswa yang Menempuh Jalur PMJK dengan SPMB Lokal pada Jurusan Pendidikan Biologi Angkatan 2006 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar (Gunawan MS.)
  8. Penerapan Quantum Teaching terhadap Peningkatan Hasil Belajar Aspek Kuantitatif Siswa Kelas VII Putri SMP Muhammadiyah 12 Makassar (Hartina)
  9. Pengaruh Penggunaan Penilaian Portofolio terhadap Peningkatan Kualitas Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Biologi X SMA Negeri 3 Makassar (Citra)
  10. Optimalisasi Pemanfaatan Buku Paket dalam Proses Pembelajaran Biologi di SMP Negeri 1 Biring Bulu Kab. Gowa (Hamdani)
  11. Analisis tentang Pelaksanaan KTSP dalam Proses Pembelajaran Biologi di SMP Negeri 5 Tompo Bulu Kab. Bantaeng (Fahrir)
  12. Peningkatan Hasil Belajar Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heat Together (THT) Penelitian Tindakan Kelas Siswa Kelas X SMP Negeri 1 Kab. Maros (Mansur)
  13. Hubungan antara Perhatian Siswa dengan Prestasi Belajar dalam Bidang Biologi Kelas XI MAN Ma’rang Pangkep (Darna Suardi)
  14. Pengaruh Model Pembelajaran Active Learning terhadap Peningkatan Minat Belajar Biologi Siswa MA Darul Kamal Mandale Kab. Pangkep (Jumrawati)
  15. Hubungan Antara Kegiatan Ekstrakurikuler dengan Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas X Madrasah Aliyah Madani Alauddin Pao-Pao Kab. Gowa (Hasni)
  16. Meningkatkan Kreativitas Berpikir Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Terpadu (Connectiv) pada Mata Pelajaran Biologi Kelas XI SMA Muhammadiyah Kalosi Kab. Enrekang (Nini)
  17. Identifikasi Kesulitan Belajar dan Cara Penanggulangannya Terhadap Mata Pelajaran Biologi Siswa Kelas XI Madrasah Aliyah Muallimin Makassar (Haslinda)
  18. Analisis Tingkat Pemahaman Siswa dalam Materi Konsep Struktur Hewan pada Kelas VII SMP Negeri 3 Kahu Kabupaten Bone (A. Suryaningsih)
  19. Efektivitas Pembelajaran Kelompok dan Penugasan Individu dalam Bidang Studi Biologi Siswa Kelas X MA Madani Pao-Pao (Husnul Khatimah)
  20. Studi tentang Gaya Belajar Visual Auditorial Kinesketik (V.A.K) dan Hubungannya dengan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA MAN Selayar (Bahoriah)
  21. Efektivitas Metode Eksperimen dengan Sistem Penilaian Berbasis Kelas dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas X MA Madani Pao-Pao (Sry Endang)
  22. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif dengan Tipe STAD pada Konsep Sistem Pencernaan di MTs. Nuhiyah Pambusuang Kab. Polman (Raodah)
  23. Pengaruh Media Gambar pada Pembelajaran Konsep Sistem Indera terhadap Penguasaan Materi Biologi Siswa Kelas VIII MTs. Aisyiah Sumigo (Rosmi)
  24. Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Arungkeke Kab. Jeneponto (Saulfiah Saiful)
  25. Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi Anak Usia 3 – 6 tahun di TK. Poleonro Kec. Libureng Kab. Bone (Andi Isna Juliana)
  26. Efektivitas Penggunaan Laboratorium IPA dalam Meningkatkan Kualitas Proses Belajar Mengajar Biologi di Madrasah Aliyah Negeri 1 Baraka Kab. Enrekang (Melinda Usman)
  27. Peningkatan Penguasaan Materi Sistem Gerak Melalui Pengajaran Peta Konsep pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Mattioro Sompe Kab. Pinrang (Hapsah)
  28. Penerapan Restitusi dalam Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif Mata Pelajaran Biologi Pokok Bahasan Struktur dan Fungsi Jaringan Hewan pada Siswa Kelas XI IPA MAN Baraka Kab. Enrekang.

KERAJAAN PERELAK

Posted: Oktober 29, 2010 in Uncategorized

Membahas Kab. Aceh Timur tanpa menyinggung kerajaan Peureulak ibarat masakan kurang garam, ga terasa enaknya. Maka pada postingan kali ini saya mencoba mem-posting sejarah kerajaan Peureulak yang saya dapat dari berbagai Sumber.

Jauh sebelum kedatangan pengaruh Islam, di Peureulak telah berdiri kerajaan, Raja-raja yang memerintah raja itu berasal dari turunan raja-raja Syahir Nuwi, dari Negeri Siam, Idhharul-haq Menceritakan bahwa Kerajaan Islam Peureulak berdiri pada Rabu, 1 Muharram 225 H atau Rabu, 12 November 839 M) Dan raja pertamanya adalah Sultan Allaiddin Saiyid Maulana Aziz Syah, dengan ibukota negaranya Bandar Peureulak, Kemudian Ibukota Negara Kerajaan Islam Peureulak, dipindah dan ubah namanya menjadi Bandar Khalifah, (Nama ini dipakai untuk mengingatkan jasa dari seorang nahkoda yang memimpin saudagar muslim yang mengajarkan keIslaman penduduk Peureulak., dengan kepindahan ibukota kerajaan tersebut menjadi semakin membuka kesempatan mendakwahkan ajaran Islam kepada penduduk pedalaman Aceh, melalui system kekerabatan yang pernah berjalan, menyebarkan unsur-unsur kebudayaan Islam pada awal-awal kedatangan ke AcehMarco Polo pelaut asal Italia dari Venesia, mencatat bahwa ia pernah singgah di ferlece (Peureulak) dalam tahun 692 M (1291 H), dalam perjalanan pulang ke negerinya, ia menemukan penduduk itu memeluk agama Islam yang disebarkan oleh pedagang Arab, Gujarat, Persia dan Turkey. Menurut Marcopolo, pada waktu itu masih terdapat pula penduduk negeri itu yang masih menyembah berhala tidak jauh dari Peureulak, sewaktu Marcopolo menanti angin yang baik untuk membawanya pulang selama lima bulan di Samara, ia dan rombongan terpaksa harus menyelamatkan diri dari serangan orang-orang daerah itu sehingga ia harus mendirikan benteng dari pancang-pancang kayu, serangan ini menunjukkan bahwa orang-orang dari kerajaan Islam Peureulak sudah memiliki kemampuan tempur yang luar biasa sehingga seorang pelaut sekaliber Marcopolo pun terpaksa harus bersusah-payah mendirikan benteng kayu untuk menahan serangan. Betapa di masa sekarang kita melihat bagaimana Tentara Nasional Indonesia kewalahan menghadapi serangan dari tentara pemberontak GAM disaat di saat konflik. Gaya dan taktik berperang yang digunakan mereka adalah warisan budaya Aceh kerajaan Islam Peureulak dulu.

Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam di Indonesia yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, antara tahun 840 sampai 1292. Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak. Hasil sumberdaya alam dan posisinya yang strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad ke-8 yang disinggahi oleh kapal-kapal yang antara lain berasal dari Arab dan Persia. Hal ini membuat berkembangnya masyarakat Islam di daerah ini, terutama sebagai akibat perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat.

Dalam idhharul-haq, Kerajaan Peureulak telah mencapai kemajuan-kemajuan peradaban yang maju, sistem pemerintahannya menyerupai sistem pemerintahan Abbasiah, hanya saja telah disederhanakan; demikian pula organisasi ketentaraan seperti yang dituliskan Ali Hasyim, Dkk, organisasi ketentaraan kerajaan Peureulak merupakan organ kekuasaan yang paling berperan dalam memperluas wilayah kekuasaan Islam, dari sini bias kita gambarkan bahwa Islam sangat perlu mobilisasi ketentaraan dan berperang adalah salah satu unsur ibadah secara Mulkiyah, dalam mengawal kebutuhan ajaran Islam dan melindungi Jama’atul Muslimin dari invasi negara luar yang mencoba menjajah negeri Islam, adalah wajar ketika bangsa Aceh sanggup melawan segala intervensi militer pada masa itu, namun belum tentu pada masa sekarang, kepahlawanan orang-orang Aceh sangat luar biasa pada saat itu, kepahlawanan tersebut yang kemudian telah sanggup mempertahankan sedikitnya empat tahta kerajaan.

Hingga awal abad ke-10, tercatat empat raja yang memerintah kerajaan Islam Peureulak, antaranya :

  1. Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Azis Syah, yang memerintah pada tahun 225-249 H (840-864 M)
  2. Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdurrahim Syah, 249-285 H (864-888 M).
  3. Sultan Alaidin Saiyid Maulanan Abbas Syah, 285-300 H (888-913 M)
  4. Sultan Alaidin Saiyid Maulanan Ali Mughaiyat Syah, 302-305 H (915-918 M)

Penobatan sultan yang ke empat sempat tertunda selama tiga tahun, hal ini diakibatkan karena terjadinya permasalahan politis pertentangan pengaruh aliran Mazhab/ politik Syi’ah dan Ahlussunnah Waljama’ah.[1]

Para saudagar yang dipimpin oleh kaum nahkoda khalifah terdiri dari pimpinan-pimpinan kaum Syi’ah yang tersingkir oleh kaum dinasti Abbasiyah di tanah Arab, Persia dan India.

Perkembangan dan pergolakan

Sultan pertama Peureulak adalah Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Azis Syah, yang beraliran Syi’ah dan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Peureulak pada 1 Muharram 225 H (840 M). Ia mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Peureulak menjadi Bandar Khalifah.

Pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abbas Syah, aliran Sunni mulai masuk ke Peureulak. Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syi’ah dan Sunni sehingga selama dua tahun berikutnya tak ada sultan.

Kaum Syi’ah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (915 M), Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Ali Mughat Syah dari aliran Syi’ah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syi’ah dan Sunni yang kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni sehingga sultan-sultan berikutnya diambil dari golongan Sunni.

Pertentangan mahzab yang keras ini sempat ke Peureulak dalam masa sultan Alaiddin Saiyid Maulana Ali Mughaiyad Syah (Bukan Ali Mughaiyad Syah Sultan di Kerajaan Aceh Darussalam) Kaum Ahlusunnah dapat menumbangkan kerajaan Islam Syi’ah Peureulak dan Mendirikan Kerajaan Islam Ahlusunnah Peureulak, yang para Sultannya terkenal dengan dinasti Makhdum, sebagai penyambung sultan-sultan dari dinasti Saiyid Maulana, yaitu ;

1. Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdulkadir Syah Johan Berdaulat, memerintah tahun 306-310 H (981-922 M)

2. Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat[2], 310-334 H (922-946 M)

3. Sultan Makhdum Alaidin Abdulmalik Syah Johan Berdaulat, 334-361 H (946-973 M)

4. Sultan Makhdum Malik Mansur Syah Johan Berdaulat, 402-450 H (1012-1059 M)

5. Sultan Makhdum Alaidin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat, 450-470 H (1059-1078 M)

6. Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat, 470-501 H (1078-1108 M)

7. Sultan Makhdum Alaidin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat, 501-527 H (1108-1134 M)

8. Sultan Makhdum Alaidin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat, 527-552 H (1134-1158M)

9. Sultan Makhdum Alaidin Malik Usman Syah Johan Berdaulat 552-565 H (1158-1170 M

10. Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Syah Johan Berdaulat,565-592 H (1170-1196 M)

11. Sultan Makhdum Alaidin Malik Abduljalil Syah Johan Berdaulat, 592-622 H (1196-1225 M)

12. Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat, 622-662 H (1225-1263 M)

Pada tahun 362 H (956 M), setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara Syi’ah dan Sunni yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian:

v Peureulak Pesisir (Syi’ah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Syah (986‑988) dengan ibukota Bandar Peureulak

v Peureulak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (986–1023) dengan Ibukota Bandar Khalifah

Pada tahun 375 H atau (986 M), kerajaan Sriwijaya menyerang Peureulak, Peperangan tersebut menyebabkan Sultan Alaidin Saiyid Maulana Mahmud Syah syahid, peperangan dengan kerajaan Sriwijaya terus dilanjutkan, sehingga tahun 393 H (1006 M) tentara Sriwijaya keluar dari Peureulak dengan mengalami kerugian yang besar. Maka Sultan Makhdum Alaidin Malik Ibrahim Syah (dari golongan Sunni) menjadi Sultan tunggal Kerajaan Islam Peureulak dan melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006

Disisi lain peperangan ini membawa dampak positif dengan meluasnya pengaruh ajaran Islam ke daerah pedalaman dan ke pantai Barat Utara oleh para Muhajjirin yang hijrah, dan diantara mereka membuka negeri-negeri Islam baru, Seperti Negeri Samudra Pasai, Negeri Isak dan Negeri Lingga (Aceh Tengah), Negeri Serbajadi dan Negri Peunaron (daerah Tamiang dan Lokop)

Penggabungan dengan Samudera Pasai

Sultan ke-17 Peureulak, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (memerintah 1230-1267), tidak mempunyai putra mahkota, namun dibalik itu terjadi peristiwa dari segi politis, yakni berlangsungnya perkawinan dua orang Putrinya dengan dua orang Raja. Hal ini untuk menjalankan politik persahabatan dengan menikahkan dua orang putrinya dengan penguasa negeri tetangga Peureulak

v Putri Ratna Kamala, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara).

v Putri Ganggang, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, Al Malik Al-Saleh.

Putri Ratna Kemala dikawinkan dengan Parameswara setelah memeluk Islam bernama Iskandarsyah, seorang Raja Malaka[3], dengan bantuan Iparnya Malik Abdulaziz Syah (Putra mahkota Malik Muhammad Amin Syah II), sultan berjihad untuk mengembangkan Islam ke seluruh daratan semenanjung tanah melayu[4], sedangkan putri Ganggang Sari dikawinkan dengan sultan Malikussaleh yang memerintah kerajaan Islam Samudera Pasai dalam tahun 659-688 H (1261-1289 M)

Perkawinan ini mempunyai arti yang besar dalam penyebaran Islam di Sumatra dan semenanjung tanah melayu, disamping itu juga telah menempatkan Kerajaan Islam Peureulak sebagai Kerajaan Yang memiliki kebudayaan dan Tamaddun tinggi sifat terbuka.[5]

Sultan Malik Abdulaziz adalah raja terakhir dinasti Makhdum dalam kerajaan Islam peureulak, setelah ia mangkat, Kerajaan Islam Peureulak berabung dengan Kerajaan Islam Samudera Pasai , Sultan Malikussaleh dari Kerajaan Islam Samudera Pasai menikah dengan Putri Ganggang Sari dari Kerajaan Islam Peureulak, yang melahirkan seorang putra pewaris tahta dua kerajaan yakni Sultan Malikul Dhahir, faktor yang menyebabkan lancarnya penyatuan kerajaan Islam Peureulak ke dalam kerajaan Islam Samudera Pasai.[6]


[1] Ali Hasjmy, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, Jakarta: Beuna, 1983, h. 47

[2] Malik Muhammad Amin sebelumnya adalah seorang Syekh dari pusat pendidikan Cot Kala, yang dibangun pada pertengahan abad ke-3 H, sebagai pusat pendidikan Islam pertama di Asia Tenggara, Ia bergelar Teungku Chik Cot Kala (Guru Besar Dayah Tinggi Cot Kala)

[3] Peraweswara ini sebelumnya berasal dari kerajaan Sriwijaya, yang telah menjadi vassal Majapahit, paraweswara dalam naskah tua Sejarah Melayu berusaha melepaskan dari kedudukan sebagai vassal Majapahit, yang menyebabkan Majapahit gusar dan menghancurkan Palembang. Kemudian paraweswara menetap di pulau Tumasik (Singapura sekarang) dan mendirikan kerajaan Malaka yang kemudian terpaksa dipindahkan Ibukotanya karena diserang seorang vassal raja Thai ke semenanjung Malaka. Lihat V.I. Braginsky, Sejarah sastra melayu dalam abad ke-7 – 19, (terjemahan dari Hersri Setiawan, (Jakarta: INIS,1999)

[4] Data-data ini diambil dari seminar menyambut Abad XV Hijriyah dan Ulang tahun ke 1176 Kerajaan Islam Peureulak dalam buku Ali Hasjmy, dkk (eds.) Ibid

[5] Ali Hasymi, Op.cit, Hal. 47

[6] Ali Hasjmy Dkk, (.eds.), Loc.ci

ACEH TIMUR

Posted: Oktober 29, 2010 in Uncategorized

Kabupaten Aceh Timur
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Kabupaten Aceh Timur
Lambang Kabupaten Aceh Timur

Peta lokasi Kabupaten Aceh Timur
Koordinat : –
Motto    ‘Udep Sare Mate Sjahid’
Provinsi    Aceh
Ibu kota    Idi Rayeuk
Luas    6.906 km²
Penduduk
· Jumlah    352.927 [1]
· Kepadatan    52 jiwa/km²
Pembagian administratif
· Kecamatan    22
· Desa/kelurahan    580
Dasar hukum    –
Tanggal    –
Bupati    Tgk. Muslim Hasballah
Kode area telepon    0646
DAU    –

Situs web resmi: http://www.acehtimurkab.go.id/

Koordinat: 4°37′ LU 97°37′ BT

Kabupaten Aceh Timur adalah sebuah kabupaten yang berada di sisi timur Aceh, Indonesia. Kabupaten ini juga termasuk kabupaten kaya minyak selain Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Kawasan ini juga termasuk basis Gerakan Aceh Merdeka sebelum diberlakukannya Darurat Militer sejak Mei 2003. Sebelum penerapan Darurat Militer ini, kawasan Aceh Timur termasuk kawasan hitam, terutama di kawasan Peureulak dan sekitarnya.Daftar isi [sembunyikan]
1 Batas wilayah
2 Daftar Bupati
3 Penduduk
4 Pemekaran
5 Referensi

[sunting]
Batas wilayahUtara    Selat Malaka
Selatan    Kota Langsa
Barat    Kabupaten Aceh Utara
Timur    Selat Malaka

[sunting]
Daftar BupatiNo.    Nama Bupati    Masa Jabatan
1    T.M. Daoedsjah    1945-1946
2    T. Radja Pidie    1946
3    T. Ali    1946
4    T. A. Hasan    1946-1948
5    Tgk. Maimoen Habsjah    1948-1952
6    Ibnu Saadan    1952
7    Zaini Bakri    1952-1953
8    T. Madja Purba    1953-1954
9    M. Kasim    1954-1955
10    Moenar Sastro Amidjojo    1955-1956
11    Kamaroesid    1956-1958
12    Tgk. Mohd. Daoed    1958-1959
13    T. Djohansjah    1959-1967
14    Muhammad Hasbi Usman    1967
15    Muhammad Nurdin    1967-1973
16    Drs. Ayub Yusuf    1973-1977
17    Drs. Zainuddin Mard    1977-1983
18    Drs. T. M. Bachrum    1983-1984
19    Drs. Zainuddin Mard    1984-1989
20    M. Noeh A.R.    1989-1994
21    Alauddin A.E.    1994-1999
22    Drs. Azman Usmanuddin, M.M.    1999-2006
23    Ir. Azwar A.B., M.Si.    2006-2007
24    Tgk. Muslim Hasballah    2007-sekarang

[sunting]
Penduduk

Penduduk kabupaten Aceh Timur terdiri dari berbagai suku, dengan suku dominan adalah suku Aceh, kemudian disusul suku Gayo yang terkonsentrasi di kecamatan Serbe Jadi, Peunaron dan Simpang Jernih. Melayu Tamiang mungkin juga ditemukan dekat Aceh Tamiang, serta suku Jawa yang menempati kawasan-kawasan transmigrasi.
[sunting]
Pemekaran

Sejak tahun 2000, daerah Aceh Timur mengalami pembagian yang ditujukan agar pembangunan kawasan itu merata. Kabupaten hasil pemekaran itu antara lain:
Kota Langsa
Kabupaten Aceh Tamiang yang mencakup 8 kecamatan.

Kabupaten Aceh Timur terkenal dengan hasil lautnya, salah satunya yang paling terkenal adalah Laut Idi, hasil tangkapan nelayan di Laut Idi diangkut sampai ke Kota Lhoksukon Kab. Aceh Utara oleh para Mugee (Pedagang ikan dengan menggunakan sepeda Motor). Selain hasil lautnya, pantai yang yang indah juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Aceh Timur mempunyai banyak pantai yang indah untuk dikunjungi di hari libur Mulai dari Simpang Ulim sampai Ke Kuala Langsa, bagi anda yang tidak suka pantai tidak perlu kecewa, masih banyak tempat wisata Alam yang menarik untuk di kunjungi, Berikut beberapa lokasi wisata Alam di Kabupaten Aceh Timur.

Air Terjun Paya Bili

Terletak di Kecamatan Birem Bayeun sekitar 12 Km dari ibu kota kecamatan terdapat sebuah air terjun dengan ketinggian 15 meter dan memilik waduk alam seluas 20 x 50 m Sarana alam yang dapat dilalui kenderaan belum mencapai lokasi, maka pengunjung harus menyusuri jalan setapak sekitar 3 Km lagi untuk menuju lokasi objek wisata ini. Alam sekitarnya masih asli dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung untuk menikmati yang merupakan wisata alam.

Pantai Kuala Parek

Terletak di Kecamatan Rantau Selamat terdapat sebuah objek wisata pantai yang mempesona yaitu pantai Kuala Parek. Pantai ini terletak + sekitar12 Km dari Ibukota Kecamatan atau lebih kurang 27 Km dari Kota Langsa, untuk menuju ke lokasi wisata ini dapat ditempuh dengan mempergunakan mobil dan dilanjutkan dengan menggunakan boat. Pantai ini merupakan wisata bahari yang memiliki pasir putih yang indah dan menawan

Kerajaan Islam Peureulak

Kerajaan Islam Peureulak merupakan kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Kerajaan ini didirikan pada tahun 840 M dengan raja pertama Sultan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah (840-864 M) sisa-sisa peninggalannya yang masih dapat ditemukan sekarang adalah Makam Sultan Sayed Maulana Abdul Aziz Syah dan Istrinya serta makam Said Machdum Alaidin Malek Abdullah. Bekas kerajaan Islam Peureulak ini terletak 6 Km dari Kota Peureulak dan dapat dicapai dengan minibus, mobil dsb

Pantai Kuala Beukah

Pantai Kuala Beukah terletak 10 Km dari Peureulak atau 59 Km dari Kota Langsa dan dapat dicapai dengan menggunakan minibus atau mobil pribadi. Pantai ini cukup panjang dan luas dengan air yang bersih. Pada hari-hari libur pantai ini sering dikunjungi oleh masyarakat Aceh Timur untuk piknik. Para pengunjung dapat berenang, memancing dan berbagai kegiatan pantai lainnya. Angin yang menghembus pelan dengan ombak Selat Malaka yang beralun lembut membuat pantai ini begitu mempesona


Waih Porak Desa Terujak

Waih Porak desa Terujak Kecamatan Serbajadi merupakan wisata alam yang dapat dikembangkan keberadaannya, disekitar lokasi objek wisata ini pemandangan alamnya yang indah serta udara yang sejuk dan nyaman. Objek wisata ini berupa pemandian air panas. Objek wisata ini terletak di desa Terujak Kecamatan Serbajadi yang berjarak sekitar 127 Km dari ibukota Kabupaten dan 2,5 Km dari ibukota Kecamatan. Untuk menuju ke lokasi ini dapat ditempuh dengan kenderaan roda empat.

Pantai Pusong Kuala Idi

Objek wisata ini juga terletak di Kecamatan Idi Rayeuk dengan jarak sekitar 63 Km dari ibukota Langsa dan 1 Km dari ibukota Kecamatan. Untuk menuju ke lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kenderaan roda empat.

Pantai Keutapang Mameh

Merupakan objek wisata bahari yang terletak di Kecamatan Idi Rayeuk, sekitar 63 Km dari ibukota Langsa dan 1 Km dari ibukota Kecamatan. Untuk menuju kelokasi wisata tersebut dapat digunakan dengan kenderaan roda empat dan roda dua

Pantai Matang Ulim Idi Cut

Pantai Matang Ulim Idi Cut terletak 2,5 Km dari ibukota Kecamatan Idi Rayeuk atau 75 Km dari Kota Langs dan dapat ditempuh dengan berbagai jenis kenderaan, pantai ini pangjangnya 1,5 Km dengan lebar pantai yang cukup luas. Sepanjang pantai ditumbuhi pohon cemara laut yang rindang dan memberikan kenyamanan jika panas siang hari. Angin laut yang berhembus sepoi-sepoi disela-sela pepohonan dan riak gelombang Selat Malaka yang tiada hentinya menghempas pantai membuat pantai ini begitu mempesona terutama bila hari panas. Pengunjung biasanya betah berada dipantai ini sampai sore hari.

Pantai Wisata Kuala Peudawa

Pantai Kuala Peudawa merupakan wisata pantai terletak di Kecamatan Peudawa, jaraknya sekitar 58 Km dari Ibukota Langsa, dan 6 Km dari Kecamatan Idi Rayeuk dan 1,5 Km dari Kecamatan Peudawa. Sepanjang pantai ditumbuhi dengan pohon kelapa yang menjulang tinggi, untuk mencapai objek wisata dapat ditempuh dengan kenderaan roda empat.

Pantai Wisata Matang Rayeuk Seuneubok Meuku

Merupakan wisata pantai yang terletak di Kecamatan Idi Rayeuk. berjarak 59 dari ibikota Kecamatan. Untuk mencapai objek wisata ini dapat ditempuh dengan menggunakan kenderaan roda dua dan roda empat.

Pantai Alur Dua Muka

Objek wisata yang berlokasi di Kecamatan Idi Rayeuk, berjarak sekitar 65 Km dari kota Langsa dan 2 Km dari Kecamatan. Objek wisata ini cukup indah dan memiliki suasana alam yang alami. Untuk menuju ke lokasi wisata ini dapat ditempuh dengan mempergunakan kenderaan roda empat.

Pantai Kuala Geulumpang

Merupakan objek wisata Bahari dengan panorama pantai yang indah menawan dengan pasir putih bersih yang membentang sepanjang pantai. Objek wista ini terletak di Kecamatan Julok yang berjarak 5 Km dari ibukota Kecamatan dari kota Langsa berharak 80 Km. Untuk menuju ke lokasi wisata dapat dilalui kenderaan roda empat

Pantai Kuala Simpang Ulim

Kecamatan Simpang Ulim terdapat objek wisata Kuala Simpang Ulim sekitar 100 Km dari kota Langsa dan jarak 8 Km dari ibukota kecamatan. Objek wisata ini sangat menarik untuk dinikmati pulau kecil yang terletak ditengah-tengah Kuala merupakan wisata bahari.